Mata Hati Diajeng Tri Prasetyawati
Senin, 4/05/2025 | 18:04 WIB | NEWS
Reporter: Getar Merdeka Red IT: Firman Wage Prasetyo
(Istemewa) Copyright © 2026 Getty Images, All right reserved
Setiap langkah yang kau tapaki adalah sebuah narasi tentang ketabahan. Kau mengajarkan bahwa melihat dengan mata hati berarti mampu menemukan keindahan dalam retakan, dan mendengar kejujuran dalam kesunyian. Lewat mata hati itu pula, kau memandang dunia bukan sebagai beban, melainkan sebagai ladang untuk menanam kasih sayang yang tak mengharap pamrih.
GetarMerdeka.com — Diajeng, pernahkah kau bertanya mengapa senja selalu tampak tenang meski ia tahu kegelapan akan segera menelannya? Mungkin, karena senja tidak melihat dengan mata, melainkan dengan hati. Begitulah aku mencoba memahaimu; bukan dari apa yang tampak di permukaan, tapi dari apa yang kau simpan rapat di balik diammu. Mata hati bukanlah soal penglihatan yang tajam, melainkan tentang kejernihan rasa. Di dunia yang begitu bising ini, banyak orang melihat hanya untuk menilai, namun sedikit yang melihat untuk memahami. Bagimu, Diajeng, hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling bersinar, melainkan tentang siapa yang paling mampu menjaga nyala api kebaikan di dalam batinnya, meski badai berkali-kali mencoba memadamkannya.
Setiap langkah yang kau tapaki adalah sebuah narasi tentang ketabahan. Kau mengajarkan bahwa melihat dengan mata hati berarti mampu menemukan keindahan dalam retakan, dan mendengar kejujuran dalam kesunyian. Lewat mata hati itu pula, kau memandang dunia bukan sebagai beban, melainkan sebagai ladang untuk menanam kasih sayang yang tak mengharap pamrih.ist.
Pada akhirnya, Diajeng, mata hati adalah kompas yang tidak akan pernah membiarkanmu tersesat. Meski jalan di depan tertutup kabut, selama hatimu tetap bening, kau akan selalu tahu ke mana arah pulang.
Seringkali kita terjebak pada apa yang tertangkap oleh indra. Kita mengagumi kelopak bunga yang mekar, namun lupa pada akar yang bekerja keras dalam sunyi di bawah tanah. Begitulah mata hati bekerja, Diajeng. Ia melampaui batas-batas visual yang seringkali menipu. Ketika dunia menuntutmu untuk tampil sempurna, mata hatimu justru membisikkan bahwa ketidaksempurnaan adalah ruang di mana cahaya bisa masuk dan menetap.
Kau tahu, Diajeng, melihat dengan hati juga berarti berani memaafkan waktu. Ada saat-saat di mana masa lalu terasa seperti bayang-bayang hitam yang mengikuti langkahmu. Namun, dengan kejernihan batin, kau mampu melihat bahwa setiap luka sebenarnya adalah guru yang menyamar. Kau tidak lagi meratapi apa yang hilang, melainkan mensyukuri apa yang masih bertahan. Di matamu, setiap rintangan bukan lagi tembok yang menghalangi, melainkan anak tangga yang menuntutmu untuk mendaki lebih tinggi ke arah kedewasaan.
Banyak yang bertanya, bagaimana cara menjaga agar mata hati itu tetap tajam? Jawabannya sederhana namun sulit dilakukan: dengan keikhlasan. Ikhlas membiarkan yang pergi untuk benar-benar berlalu, dan ikhlas menerima yang datang sebagai bagian dari takdir. Lewat mata hati itu, kau memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam riuh tepuk tangan orang lain, melainkan dalam ketenangan saat kau bersujud di sepertiga malam, saat hanya ada kau dan sunyi yang paling murni. ******
Firman Wage Prasetyo, Penulis Journalist Free Lance 💕🤲✍[gmc/ro1/adv]SHARECopyright @ 2026 Getar Merdeka, All right reserved

